Minggu, 27 Juni 2010

Istriku Menulis di Masa lalu (X)

Senin, 19 September 2005
Pk. 18.00

Bayiku akan pulang …
Tidak sampai dua minggu dari sekarang …
Bayiku akan kembali ke pangkuanku … Insya Allah …
Tanggal 1 Oktober nanti … aku dan suamiku akan menjemput bayiku pulang …
Kembali ke rumah ini lagi …
Rasanya tidak sabar menunggu saat itu …
Rasanya ingin waktu cepat berlalu dan segera melewatkan waktuku hanya bersama bayi dan suamiku di sini …

Di rumah kami … seperti dulu …
Pasti akan lain rasanya …
Karena nanti … sudah tidak akan ada lagi kekhawatiran suamiku harus berlama-lama di Purbalingga … karena surat mutasinya sudah selesai … walaupun masih harus menunggu nota tugas untuk mulai mengajar di Semarang …
Waktu dua minggu rasanya terlalu lama untuk menunggu ada suara tawa dan ocehan bayi kecilku yang sudah mulai tumbuh besar itu di rumahku ini …
Tapi sebenarnya tidak terlalu lama kalau mengingat masih banyaknya hal-hal yang harus kami persiapkan untuk menyambut kepulangan bayi kecilku itu …
Membereskan rumah sampai sebersih-bersihnya …
Membuat kelengkapan nasi kuning yang bisa dikerjakan di sini untuk bancakannya bayiku di Rembang nanti …
Mempersiapkan travel untuk mbah Yayi dan mbah Kakung yang akan mengantar bayiku pulang ke rumah ini …
Dan mempersiapkan segala sesuatu untuk mencukupi kebutuhan bayiku setelah dia berkumpul kembali bersama kami …
Semua itu pasti akan menyita seluruh waktu dan pikiranku dan suamiku …
Ya Allah … Engkau Maha Tahu … bahwa sebenarnya masih begitu banyak yang kami khawatirkan untuk membawa kembali bayi kami pulang ke rumah ini …
Tapi rasanya kami sudah tidak kuat untuk menahan lebih lama lagi kalau harus jauh dari buah hati kami …
Seperti ketika kami dihadapkan pada situasi dimana kami harus menitipkan bayi kecil kami di Rembang lima bulan yang lalu …
Sekarang ini pun kami hanya bisa menyerahkan segalanya hanya pada-Nya …
Kami memutuskan untuk memilih jalan dan mengambil resiko untuk membawa kembali buah hati kami ke pangkuan kami … dengan hanya bermodalkan kepasrahan kami pada Yang Maha Memberi Cobaan … yakin dan pasrah bahwa Dia akan selalu menolong kami seperti selama ini … sampai kami bisa melewati cobaan terberat bagi kami ketika kami harus berpisah dari belahan jiwa kami …
Konsekuensi dari keputusan kami ini … aku harus berhenti bekerja … dan mulai mengurus dan mendidik Hafidz, bayi kecil kami … dan mempersiapkan kehadiran adiknya nanti … yang Insya Allah akan lahir di bulan Februari 2006 …
Itu satu hal yang sangat menyenangkan hatiku … satu cita-cita yang sempat tersisihkan …
Karena ternyata … di awal perjalanan pernikahanku … aku harus bekerja dulu untuk membantu menormalkan kondisi keuangan kami …
Bahkan bayi mungil kami pun … terpaksa harus mengalami masa prihatin karena harus dijauhkan dulu dari kami orang tuanya … orang yang seharusnya menjadi orang terdekat bagi dia …
Dan alhamdulillah … kami dianugerahi anak yang sangat sholeh oleh Allah SWT …
Tapi biarpun begitu …
Kami tidak ingin berlama-lama jauh dari buah hati kami …
Kami ingin selalu mendampinginya di masa-masa pertumbuhannya …
Dan kami ingin dia merasakan bahwa kami sangat menyayanginya … melebihi apa pun yang ada di dunia ini …
Kami ingin mendekatkannya dengan adiknya yang akan segera menemaninya bermain di rumah ini …
Kami ingin berkumpul bersama di rumah ini …
Kabulkan doa kami, ya Allah … amiin …
Mungkin … dengan aku berhenti bekerja … untuk beberapa waktu ke depan kami belum bisa hidup berlebih … tapi Insya Allah … kami tidak akan kekurangan …
Dan kami yakin … Allah akan mengganti rejeki yang hilang dari pekerjaanku sekarang … dengan rejeki yang lebih barokah … karena kami bisa tetap berikhtiar mencari rejeki dengan tanpa menjauhkan dan mengurus sendiri amanah yang Allah berikan kepada kami … buah hati kami … Amiin …
Walaupun masih banyak keinginan yang tertunda karena aku harus berhenti bekerja sekarang ini … tapi aku yakin … Allah akan menggatinya dengan kebahagiaan lain …
Kebahagiaan melihat wajah polos dan senyum bayi kami …
Kebahagiaan mendengar tawa dan ocehan bayi kami …
Kebahagiaan melihat pertumbuhan dan perkembangan bayi kami …
Kebahagiaan karena bisa bertemu dia setiap saat …
tanpa harus menunggu hari Sabtu …
tanpa memikirkan badan yang lelah …
tanpa memikirkan ongkos untuk pergi ke Rembang …
Kebahagiaan-kebahagiaan itu … jauh lebih berarti rasanya dibandingkan dengan memiliki perabotan rumah yang lengkap tapi harus berjauhan dengan buah hati tersayang …
Tidak akan ada lagi rasa sakit di hati ini … melihat bayi kecilku terus menatap kepergianku dan papanya … yang meninggalkannya …
Tidak akan ada lagi rasa sakit di hati ini … mendengar rengekannya menangisi kepergianku dan papanya … yang harus segera kembali ke Semarang …
Ya Allah …
Tidak akan ada penyesalan bagi kami membawa kembali pulang buah hati kami …
Engkau tidak akan memberi cobaan pada kami yang melebihi batas kesanggupan kami…
Posting Komentar