Rabu, 09 Maret 2011

PENGELOLAAN ALAT DAN BAHAN LABORATORIUM FISIKA


I. PENDAHULUAN
            Penyimpanan/pengelolaan alat dan bahan laboratorium merupakan bagian dari manajemen laboratorium. Manajemen Laboratorium  (Laboratory Management) adalah usaha untuk mengelola laboratorium berdasar konsep manajemen baku. Bagaimana suatu laboratorium dapat dikelola dengan baik sangat ditentukan oleh beberapa faktor yang sangat berkaitan satu dengan lainnya. Beberapa peralatan laboratorium yang canggih dengan staf profesional yang terampil, belum tentu dapat beroperasi dengan baik , jika tidak didukung oleh adanya manajemen laboratorium yang baik. Oleh karena itu manajemen laboratorium adalah suatu bagian yang tak dapat dipisahkan dari kegiatan laboratorium sehari-hari.
II. MANAJEMEN / PENGELOLAAN LABORATORIUM
            Untuk mengelola laboratorium dengan baik kita harus mengenal perangkat-perangkat manajemen apa yang harus dikelola. Perangkat-perangkat  laboratorium yang dimaksud tersebut antara lain adalah :
1.    Tata ruang
2.    Alat yang baik dan terkalibrasi
3.    Infrastruktur
4.    Administrasi laboratorium
5.    Organisasi laboratorium
6.    Fasilitas pendanaan
7.    Inventarisasi dan keamanan
8.    Pengamanan laboratorium
9.    Disiplin yang tinggi
10. Ketrampilan SDM
11. Peraturan Dasar
12. Penanganan masalah umum
13. Jenis-jenis pekerjaan
Semua perangkat-perangkat ini jika dikelola secara optimal, akan mendukung terwujudnya penerapan manajemen laboratorium yang baik. Dengan demikian manajemen laboratorium dapat dipahami sebagai suatu tindakan pengelolaan yang kompleks dan terarah, sejak dari perencanaan tata ruang sampai dengan perencanaan semua perangkat penunjang lainnya,  dengan  sebagai pusat aktivitas adalah tata ruang.

III. RINCIAN KEGIATAN MASING-MASING PERANGKAT
1. Tata Ruang ( Lab lay out )
            Untuk tata ruang, sebaiknya ditata sedemikian rupa sehingga laboratorium dapat berfungsi dengan baik. Tata ruang yang sempurna, sejak dimulai perencanaan gedung pada waktu dibangun. Tata ruang yang baik (kondisi ideal) sebuah laboratorium harus mempunyai :
a.    Pintu masuk (in)
b.    Pintu keluar (out)
c.    Pintu darurat (emergency-exit)
d.    Ruang persiapan (preparation room)
e.    Ruang peralatan (equipment-room)
f.      Ruang penangas (fume-hood)
g.    Ruang penyimpanan / gudang (storage-room)
h.    Ruang staf (Staff-room)
i.      Ruang teknisi/laboran
j.      Ruang bekerja (activity-room)
k.    Ruang istirahat / ibadah
l.      Ruang prasarana kebersihan
m.  Ruang peralatan keselamatan kerja
n.    Lemari praktikan (locker)
o.    Lemari gelas (glass-room)
p.    Lemari alat-alat optik (opticals-room)
q.    Pintu jendela berkassa, agar serangga dan burung tidak dapat masuk
r.     Fan / kipas angin
s.    Ruang AC untuk alat-alat tertentu yang memerlukan persyaratan tertentu.
2. Alat yang baik dan terkalibrasi
            Pengenalan terhadap peralatan laboratorium merupakan kewajiban bagi setiap petugas laboratorium untuk mengetahuinya, terutama mereka yang akan mengoperasikan peralatan tersebut. Setiap alat yang akan dioperasikan itu harus benar-benar dalam kondisi :
a.    Siap pakai (ready for use)
b.    Bersih
c.    Terkalibrasi
d.    Tidak rusak
e.    Beroperasi dengan baik
Peralatan yang ada juga harus disertai dengan buku petunjuk pengoperasian (manual-operation). Hal ini untuk mengantisipasi bila terjadi kerusakan, buku manual tersebut dapat dimanfaatkan oleh teknisi/laboran  untuk seperlunya. Teknisi laboratorium yang ada harus senantiasa berada di tempat, karena setiap kali peralatan dioperasikan kemungkinan alat tidak dapat beroperasi dengan baik dapat saja terjadi.
Beberapa peralatan laboratorium yang dimiliki kiranya dapat disusun secara teratur pada suatu tempat tertentu, berupa rak atau pada meja yang disediakan. Peralatan berfungsi untuk melakukan suatu kegiatan pekerjaan, percobaan atau demonstrasi tertentu yang menghendaki adanya bantuan peralatan. Untuk itu peralatan laboratorium harus berada dalam kondisi yang baik. Alat-alat ini disusun secara teratur, sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Peralatan laboratorium sebaiknya dikelompokkan berdasarkan penggunaannya. Setelah selesai digunakan harus segera dibersihkan kembali dan disusun seperti semula. Semua alat-alat ini sebaiknya diberi penutup (cover), misal plastik transparan, terutama terutama alat-alat yang memang memerlukannya. Alat-alat yang tidak berpenutup akan cepat berdebu, kotor dan akhirnya dapat merusak alat yang bersangkutan.
a.        Untuk alat-alat gelas (Glassware)
Alat-alat gelas harus dalam keadaan bersih, apalagi peralatan gelas yang sering dipakai. Untuk alat-alat gelas yang memerlukan sterilisasi, sebaiknya disterilisasi sebelum dipakai. Semua alat-alat gelas ini seharusnya ditempatkan pada lemari khusus.
b.        Untuk bahan-bahan kimia
Untuk bahan-bahan kimia yang bersifat asam dan alkalis, sebaiknya ditempatkan pada kamar/ruang fume (untuk mengeluarkan gas-gas yang mungkin timbul). Demikian  juga untuk bahan-bahan yang mudah menguap. Ruangan fume perlu dilengkapi fan, agar udara/uap yang ada dapat terpompa keluar. Bahan kimia yang ditempatkan dalam botol berwarna coklat atau gelap tidak boleh langsung terkena sinar matahari, sebaiknya ditempatkan pada lemari khusus.
c.        Alat-alat mikroskop
Alat-alat mikroskop dan alat-alat optik lainnya seharusnya disimpan pada tempat yang kering dan tidak lembab. Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan lensa-lensa berjamur, jika jamur ini banyak, maka mikroskop akan rusak dan tidak dapat dipakai sama sekali. Sebagai tindakan pencegahan, mikroskop selalu ditempatkan dalam kotaknya, yang biasanya dilengkapi dengan silica-gel dan sebelum disimpan dicek kembali kebersihannya. Mikroskop ini seharusnya ditempatkan di dalam lemari-lemari khusus yang dikendalikan kelembabannya. Untuk lemari biasanya diberi lampu pijar 10-15 watt, agar ruang ini tetap selalu panas / kering dan akan mengurangi kelembaban udara (dehumidifier-air). Alat optik lainnya seperti lensa pembesar (loupe), alat kamera optik, kamera digital, microphoto-camera, juga ditempatkan pada lemari khusus yang tidak lembab .
3.     Infrastruktur Laboratorium
        Infrastruktur ini meliputi :
a.    Laboratory assesment
Mencakup tentang lokasi laboratorium, konstruksi laboratorium dan fasilitas lain, termasuk pintu utama, pintu emergency, jenis meja/pelataran, jenis atap, jenis dinding, jenis lantai, jenis pintu, jenis lampu yang dipakai, kamar penangas, jenis pembuangan limbah, jenis ventilasi, jenis AC, jenis tempat penyimpanan, jenis-jenis lemari bahan kimia, alat optik, timbangan, instrumen yang lain, kondisi laboratorium, dan sebagainya.
b.    Fasilitas Umum (General services)
Mencakup tentang kebutuhan listrik, stabilitas tegangan, sumber listrik, distribusi arus, jenis panel listrik, jenis sokets, sumber air dan pendistribusiannya cukup atau tidak, jenis kran, jenis bak pembuangan air, apakah tekanan air cukup atau tidak, instalasi air, instalasi listrik, keadaan toilet/kamar kecil, jenis kamar/ruang persiapan dan kamar khusus lainnya misal perbaikan/bengkel, penyediaan tenaga teknisi, penyediaan dana, dan sebagainya.
4. Administrasi Laboratorium
Administrasi laboratorium meliputi segala kegiatan administrasi yang ada di laboratorium, yang antara lain terdiri atas :
a.    Inventarisasi peralatan laboratorium yang ada
b.    Daftar kebutuhan alat baru, atau alat tambahan, alat-alat yang rusak, dan atau alat-alat yang dipinjam/dikembalikan.
c.    Keluar masuk surat menyurat
d.    Daftar pemakaian laboratorium, sesuai dengan jadwal kegiatan praktikum / percobaan yang ada.
e.    Daftar inventarisasi bahan-bahan kimia (chemikalia) dan non kimia (non chemikalia), bahan-bahan gelas dan sebagainya.
f.     Daftar penerimaan barang serta  daftar pembelian barang.
g.    Daftar inventaris alat –alat mebelair (kursi, meja, bangku, lemari, dsb).
h.    Sistem evaluasi dan pelaporan.
Kegiatan administrasi adalah merupakan kegiatan rutin yang berkesinambungan, karenanya perlu dipersiapkan dan dilaksanakan dengan baik dan teratur.
5.   Inventarisasi dan Keamanan Laboratorium
Kegiatan inventarisasi dan keamanan laboratorium meliputi :
a.    semua kegiatan inventarisasi (Inventory=Inventarisasi), seperti yang telah disebutkan di atas pada semua peralatan, bahan dan barang-barang yang ada di laboratorium, secara detail. Inventarisasi ini juga harus memuat sumbernya (dari mana asal barang tersebut). Misalnya : hibah, droping dari proyek, dari dana masyarakat lewat komite sekolah, dll.
b.    Keamanan yang dimaksud di sini adalah apakah peralatan tersebut tetap ada di laboratorium, atau ada yang meminjamnya.  Apakah ada yang hilang, dicuri, pindah tempat atau rusak / sedang diperbaiki tetapi tidak dilaporkan keadaan sebenarnya. Perlu diingat bahwa barang-barang dan semua peralatan laboratorium yang ada adalah milik negara, jadi tidak boleh ada yang hilang.
Tujuan yang akan dicapai dari inventarisasi dan keamanan ini adalah :
(1)  mencegah kehilangan dan penyalahgunaan
(2)  mengurangi biaya-biaya operasional
(3)  meningkatkan proses pekerjaan dan hasilnya
(4)  meningkatkan kualitas kerja
(5)  mengurangi resiko kehilangan
(6)  mencegah pemakaian berlebihan
(7)  meningkatkan kerjasama
6.    Penggunaan Laboratorium
Prinsip Umum
a.    Tanggung jawab
Pimpinan pengelola laboratorium, anggota laboratorium (guru-guru pengguna lab), teknisi dan laboran bertanggung jawab penuh terhadap segala kecelakaan yang mungkin timbul. Karenanya pimpinan pengelola laboratorium di Sekolah Menengah dipegang oleh guru yang berpengalaman dan memiliki keahlian yang sesuai. Demikian juga dengan teknisi dan laboran.
b.    Kerapian
Semua koridor, jalan keluar dan alat pemadam api harus bebas dari hambatan seperti botol-botol dan kotak-kotak. Lantai harus bersih dan bebas minyak, air dan material lain yang mungkin menyebabkan lantai licin. Semua alat-alat dan reagent harus segera dikembalikan ke tempat semula setelah digunakan.
c.    Kebersihan masing-masing pekerja di laboratorium.
d.    Perhatian terhadap tugas masing-masing harus berada pada pekerjaan mereka masing-masing, jangan mengganggu pekerjaan orang lain. Percobaan yang memerlukan perhatian penuh tidak boleh ditinggalkan.
e.    Pertolongan pertama ( First-Aid)
Semua kecelakaan bagaimanapun ringannya harus segera ditangani ditempat pertolongan pertama. Bila mata terpercik, harus segera digenangi air dalam jumlah banyak. Jika tidak bisa segera dibawa ke dokter. Jadi setiap labotratorium harus memiliki kotak PPPK, dan harus selalu dikontrol isinya.
f.     Pakaian
Saat bekerja di laboratorium dilarang memakai baju longgar, kancing terbuka, berlengan panjang, kalung teruntai, anting besar, dan lain-lain yang mungkin dapat ditangkap oleh mesin, ketika sedang bekerja dengan mesin-mesin  yang bergerak/berputar. Yang paling penting rambut harus dilindung dari mesin-mesin yang bergerak.
g.    Berlari di laboratorium
Tidak dibenarkan berlari-lari di laboratorium atau di koridor, berjalanlah di tengah koridor untuk menghindari bertabrakan dengan orang dari pintu yang hendak masuk.
h.    Pintu-pintu
Pintu-pintu harus dilengkapi dengan jendela pengintip untuk mencegah terjadinya kecelakaan (misalnya : kebakaran).
i.      Alat-alat
Alat-alat seharusnya ditempatkan di tengah meja,  agar alat-alat tersebut tidak jatuh ke lantai. Selain itu, peralatan sebaiknya juga ditempatkan dengan sumber listrik, jika memang peralatan tersebut memerlukan listrik untuk sumber energinya. Demikian juga untuk alat-alat yang menggunakan air diletakkan di dekat kran air. Alat-alat yang memerlukan pencahayaan matahari ditempatkan didekat jendela. Alat-alat yang memerlukan kamar gelap diletakkan di kamar gelap, dll.
Penanganan alat-alat
a.    Alat-alat kaca / gelas
Bekerja dengan alat-alat kaca perlu hati-hati sekali. Beakerglass, erlenmeyer, dll sebelum dipanaskan harus benar-benar diteliti apakah gelas tersebut retak , sumbing, dan sebagainya. Bila terdapat gejala itu sebaiknya barang-barang seperti itu tidak dipakai lagi.
b.    Mematahkan pipa kaca/batangan kaca bila hal tersebut hendak dilakukan maka pekerja harus memakai sarung tangan. Bekas patahan pipa kaca dihaluskan lalu diberi pelumas / gemuk, baru kemudian dimasukkan ke sumbat gabus, kaca atau pipet.
c.    Mencabut pipa kaca dari gabus dan sumbat harus dilakukan dengan hati-hati. Bila sukar mencabutnya, potong dan belah gabus itu. Untuk memperlonggar lebih baik menggunakan pelubang gabus yang ukurannya telah cocok, kemudian licinkan dengan meminyakinya dan kemudian putar perlahan-lahan melalui sumbat. Cara ini juga digunakan untuk memasukkan pipa kaca ke sumbat.
d.    Alat-alat kaca yang bergerigi atau sumbing, sebaiknya jangan digunakan. Sebelum dibuang sebaiknya dicuci dulu siapa tahu suatu ketika dapat digunakan untuk keperluan lain atau masih bisa diperbaiki.
e.    Semua bejana seperti botol, flask, test tube dan lain-lain seharusnya diberi label yang jelas. Jika tidak jelas, lakukan pengetesan isi bejana yang belum diketahui secara pasti dengan  hati-hati secara terpisah, kemudian dibuang melalui cara yang sesuai dengan jenis zat kimia tersebut. Biasakanlah menulis tanggal, nama orang yang membuat, konsentrasi, nama dan bahayanya dari zat-zat kimia yang ada di dalam bejana.
f.     Tabung-tabung gas harus ditangani dengan hati-hati walau penuh ataupun tidak penuh. Penyimpanan sebaiknya di tempat sejuk dan hindari tempat yang panas. Kran gas harus selalu tertutup jika tidak dipakai, demikian juga dengan kran pengatur. Alat-alat yang berhubungan dengan tabung gas harus memakai ”safety use” (sejenis alat pengaman jika terjadi tekanan yang kuat).  Dewasa ini sudah banyak beredar bergbagai jenis pengaman seperti selang anti bocor dll.
g.    Penggunaan pipet dengan jalan mengisap dengan mulut sebaiknya dihindari. Gunakan pipet yang dilengkapi dengan pompa pengisap (pipet pump).
h.    Di dalam laboratorium harus tersedia alat pemadam kebakaran yang sesuai dengan jenis kebakaran yang mungkin timbul di laboratorium tersebut.
Di bawah ini diberikan bahan-bahan yang dapat menimbulkan kebakaran beserta klasifikasinya.

Kelas kebakaran
(fire class)
Bahan yang mudah terbakar
(Burning material)
Kelas “A”
Kertas, kayu, textil, plastik, bahan-bahan pabrik, atau campuran lainnya.
Kelas “B”
Larutan yang mudah terbakar
Kelas “C”
Gas yang mudah terbakar
Kelas “E”
Alat-alat listrik

Bahan-bahan yang lain, jika terbakar sulit untuk diklasifikasikan , karena berubah dari padat,menjadi cair atau dari cair menjadi gas pada temperatur yang tinggi. Perlu diingat bahwa: Nyawa Anda lebih berharga daripada peralatan/bangunan yang ada”. Oleh karenanya peralatan pemadam kebakaran harus tersedia di laboratorium.
Jenis Alat Pemadam Kebakaran
Type
Kelas Kebakaran
Warna Tabung
Air
A,B,C
Merah
Busa (foam)
A,B
Krem
Tepung (powder)
A,B,C,E
Biru
Halon (Halogen)
A,B,C,E
Hijau
Karbodioksida (CO2)
A,B,C,E
Hitam
Pasir
A,B
-

7. Organisasi Laboratorium
            Organisasi laboratorium meliputi struktur organisasi,  deskripsi pekerjaan, serta susunan personalia yang mengelola laboratorium tersebut. Penanggung jawab tertinggi di laboratorium tersebut adalah Ketua Laboratorium. Ketua Laboratorium bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan dan juga bertanggung jawab terhadap seluruh peralatan yang ada. Para anggota laboratorium yang berada di bawah ketua laboratorium juga harus sepenuhnya bertanggung jawab terhadap semua pekerjaan yang dibebankan padanya. Demikian pula teknisi dsan laboran.
8. Fasilitas Pendanaan
            Ketersediaan dana sangat diperlukan dalam operasional laboratorium. Tanpa adanya dana yang cukup, kegiatan laboratorium akan berjalan tersendat-sendat, bahkan mungkin tidak dapat beroperasi dengan baik. Dana dapat diperoleh dari :
a. Dana dari pemerintah
b. Dana dari masyarakat (lewat Komite Sekolah)
c. Bantuan proyek (droping dari pemerintah)
d. Sumber lain
Jika selama ini misalkan tidak ada dana yang berasal dari pemerintah (untuk sekolah negeri), maka pihak sekolah harus berani mendesak kepada Depdiknas agar disediakan anggaran  misal lewat APBD / APBN untuk keperluan pengembangan laboratorium dan biaya operasional .  Unsur pimpinan sekolah hendaknya sedikit banyak juga mengetahui tentang seluk beluk laboratorium agar dapat mengetahui apakah alat / bahan / barang yang diusulkan oleh pengelola laboratorium untuk diadakan apakah memang benar-benar diperlukan dan nantinya akan dipergunakan atau tidak. Jika alat / bahan / barang yang akan dibeli diadakan lewat proyek, sebaiknya pengelola lab dalam membuat usulan harus tahu persis spesifikasi dan harga barang yang akan dibeli, agar dana yang tersedia dapat digunakan seoptimal mungkin.
9. Disiplin yang tinggi
            Disiplin yang tinggi dari teknisi, laboran dan semua pengelola laboratorium akan mendukung terwujudnya efisensi kerja yang tinggi. Kedisiplinan sangat dipengaruhi oleh pola kebiasaan dan perilaku dari manusianya sendiri. Oleh sebab itu mereka seharusnya dapat menyadari akan tugas, wewenang dan fungsinya.  Sesama laboran, teknisi, dan guru pengelola lab harus ada kerja sama yang baik, sehingga setiap keslitan dapat dipecahkan bersama. Yang juga tidak kalh pentingnya adalah kerjasama pengelola lab dengan unsur pimpinan sekolah yang menangani sarana dan prasarana sekolah.
10. Ketrampilan
            Ketrampilan para tenaga laboran / teknisi harus selalu ditingkatkan kualitasnya. Peningkatan ketrampilan mungkin dapat diperoleh melalui pendidikan tambahan seperti pendidikan ketrampilan khusus, penataran, workshop, magang dll. Peningkatan ini diharapkan dapat meningkatkan peran aktif mereka di laboratorium masing-masing. Peningkatan ketrampilan dapat juga dilakukan melalui bimbingan dari guru pengelola lab yang kompeten.
10. Peraturan Dasar
            Beberapa peraturan dasar untuk menjamin kelancaran jalannya kegiatan di laboratorium antara lain :
a.    Dilarang makan/minum di dalam laboratorium
b.    Dilarang merokok, karena mengandung potensi bahaya seperti :
(1)  Kontaminasi melalui tangan
(2)  Ada api/uap/gas yang bocor/mudah terbakar
(3)  Uap / gas beracun akan tersiap melalui pernafasan
c.    Dilarang meludah, akan menyebabkan terjadinya kontaminasi
d.    Dilarang berlari, terutama bila ada bahaya kebakaran, gempa dan sebagainya. Jadi harus tetap berjalan saja.
e.    Dilarang bermain dengan peralatan laboratorium yang belum diketahui cara penggunaannya. Sebaiknya tanyakan pada orang yang tahu atau pada  teknisi.
f.     Diharuskan selalu menulis label yang lengkap, terutama pada bahan-bahan kimia.
g.    Dilarang mengisap / menyedot dengan mulut segala bentuk pipet. Semua alat harus menggunakan bola karet pengisap (pipet-pump).
h.    Diharuskan memakai baju laboratorium, dan juga sarung tangan terutama saat menuang bahan-bahan kimia yang berbahaya seperti asam sulfat.
i.      Untuk peralatan laboratorium yang spesifik yang sudah ada manual dari pabriknya, dilarang membuat sendiri peraturan penggunaan alat tersebut apalagi bila bertentangan dengan manual yang telah ada.
10.  Penanganan Masalah Umum
a.    Mencampur zat-zat kimia
Jangan mencampur zat kimia tanpa mengetahui sifat reaksinya. Jika belum tahu segera tanyakan pada orang yang mengetahuinya.
b.    Zat-zat baru atau kurang diketahui.
Demi keamanan laboratorium, berkonsultasilah sebelum menggunakan zat-zat kimia baru atau yang kurang diketahui.
c.    Membuang mnaterial berbahaya yang harus diketahui resiko yang mungkin terjadi. Pastikan cara membuangnya tidak menimbulkan bahaya. Demikian juga terhadap air buangan dari laboratorium
d.    Tumpahan
Tumpahan asam segera diencerkan lenih dulu dengan air dan netralkan dengan soda abu atau CaCO3, dan untuk basa dengan air dinetralisir dengan asam encer. Sebelum pengepelan pastikan kain yang digunakan sudah bebas dari asam atau alkali. Tumpahan berupa minyak harus ditaburi pasir, baru disapu dan dibuang ditempat sampah.
11. Jenis Pekerjaan
            Berbagai jenis pekerjaan yang ada di laboratorium harus dibicarakan bersama antara pimpinan laboratorium, anggota  dan teknisi serta laboran. Pemahaman atas jenis pekerjaan di laboratorium bertujuan untuk :
a.    Meningkatkan efisiensi penggunaan bahan-bahan kimia, air, listrik, gas dan alat-alat lab.
b.    Meningkatkan efisiensi biaya
c.    Meningkatkan efisiensi tenaga dan waktu
d.    Mempercepat  pelaksanaan pekerjaan
e.    Meningkatkan kualitas guru anggota pengelola lab
f.     Meningkatkan kualitas teknisi dan laboran
g.    Guru, teknisi dan laboran harus bekerja sama dalam satu team work.
IV.  ALAT-ALAT LABORATORIUM FISIKA – FUNGSI DAN PENYIMPANAN
( Lihat lampiran )
V. KESIMPULAN
            Agar semua kegiatan yang dilakukan di laboratorium dapat berjalan dengan lancar dibutuhkan sistem pengelolaan laboratorium yang baik, sesuai dengan situasi kondisi setempat. Untuk mencapai hal tersebut beberapa hal perlu diperhatikan :
1.    Jenis pekerjaan yang dilakukan
2.    Ketrampilan SDM
3.    Alat /peralatan yang beroperasi dengan baik
4.    Keselamatan kerja
5.    Disiplin tinggi
6.    Organisasi laboratorium yang baik
7.    Dana yang tersedia
Peran pimpinan laboratorium (ketua lab), unsur pimpinan sekolah sangatlah besar dalam menerapkan proses manajemen pengelolaan laboratorium.
Bahan Latihan dan Diskusi
1.    Bagaimanakah struktur organisasi laboratorium di sekolah Anda ? Apakah sudah ada dan berjalan dengan baik ?
2.    Bagaimana job deskripsi yang berlaku untuk masing-masing fungsi ?
3.    Berapa jumlah personalia yang termasuk di dalam organsasi laboratorium di tempat Anda , mulai dari pimpinan laboratorium, anggota, teknisi dan laboran atau asisten (kalau ada) ?
4.    Bagaimana penerapan sistem monitoring dan evaluasi di laboratorium di sekolah Anda ?
5.    Apa saja yang menjadi kendala penerapan manajemen laboratorium di tempat Anda ?
6.    Apakah ada kemungkinan merekrut siswa di kelas yang lebih tinggi untuk menjadi asisten praktikum bagi adik kelasnya ?
Daftar Pustaka
Djas, Fachri. 1998 Penataran Pengelolaan  laboratorium (Manajemen Laboratorium). Medan Fakultas Kedokteran USU
Tim Supervisi Ditjen Dikti. 2002. Bahan Ajar Pelatihan Manajemen Laboratorium. Jakarta : Proyek Manajemen Pendidikan Tinggi ditjen Dikti

Posting Komentar